Sunday, February 4, 2018

Secuil Cerita di Gedung Putih

                Ya.. Pagi itu.. Ada seseorang datang, entah dengan penyakit atau luka apa. Walaupun ada sekerumunan orang mengelilinginya, aku masih dapat melihatnya. Ia laki-laki berkacamata, dengan beberapa anggota keluarganya. Ibu, ayah, dan seorang perempuan manis yang berteriak “Kakaaak.. kakaak... .” Kasihan memang, perasaan seorang gadis dengan kondisi kakaknya yang mungkin sedang sekarat. Kukira usia laki-laki itu  juga tak jauh berbeda denganku.
...


                Esok harinya, di pagi yang damai. Aku membuka mataku saat adzan Shubuh berkumandang. Kucoba memperkuat diriku dan mengambil air wudhu melaksanakan sholat. Entah Allah mencatat ini sebagai ibadah yang sah atau tidak. Aku pikir Allah Maha Pengampun yang selalu mengampuni hambaNya walau terkadang penghambaan sang hamba itu sendiri kurang sempurna.
                Ya.. namaku Arsya, apakah kedengarannya seperti nama seorang laki-laki? Bukan, aku perempuan, usiaku baru saja di awal 20-tahunan. Aku sedang berkuliah, namun kupikir mengambil cuti dan menyelesaikan penyembuhan tubuhku di rumah sakit ini jauh lebih penting dari apapun. Sehari-hari di rumah sakit rasanya menyenangkan, setidaknya aku bersama orang-orang yang butuh pengobatan yang sama sepertiku. Terkadang aku menghampiri  mereka yang tidak didampingi oleh keluarga dan bergabung berbagi makanan dan terkadang bercerita. Aku senang sekali mendengarkan cerita-cerita mereka. Sampai-sampai dokter dan suster sering mencariku karena aku suka keluar dari ruang perawatanku.
Bagaimana lagi, sendirian itu sangat tidak menyenangkan, membosankan, dan solusinya adalah.. yups.. mencari teman. Setiap pagi aku keluar gedung untuk menghirup udara segar. Terkadang aku juga sering ke kantin untuk mencari beberapa makanan karena terkadang perutku lapar saat makanan dari rumah sakit belum tiba. Aku juga tak mengerti sakit apa sebenarnya aku ini. Padahal aku bisa kesana kemari, walaupun hanya dengan kursi roda. Aku mensyukurinya.. entah bagian mana dari tubuhku yang tidak kuat untuk menopang massa tubuhku sehingga aku harus menggunakan bantuan kursi roda.
...
Tak terasa olehku, hari mulai siang. Aku terlalu asyik mengobrol dengan Mak Imah, yang berjualan di kantin. Ia seperti Ibu kedua di sini. Maklum saja, orangtuaku harus bekerja sehingga aku disini harus mampu mengatur diri sendiri di sini. Mak Ima lah yang selalu menjadi tempat dimana aku bisa bercerita, bercanda, dan terkadang membantunya mengupas timun atau sekedar mengelap piring dan sendok.
Kuputuskan untuk kembali ke ruangan tempatku di rawat. Tempatnya di ruang Bunga Mawar. Entah kenapa nama ruangan menggunakan nama bunga, karena memang yang kutahu di sini semua ruangan menggunakan nama bunga. Di ruangan ini ada sekitar 6 tempat untuk perawatan pasien. Namun untuk saat ini hanya ada 4 tempat yang sudah terpakai, 2 diantaranya kosong.
Sampai di kamar, aku mencuci tangan dan kakiku terlebih dahulu sebelum aku naik ke atas kasurku. Setelah bersih, aku mencoba berbaring. Seperti biasa, aku harus menunggu dokter untuk memeriksa perkembangan kesehatanku. Namun aku merasa berbeda di ruangan ini, entah kenapa. Kemudian mataku langsung tertuju di tempat tidur yang sebelumya kosong, kini telah ditempati oleh seorang laki-laki. Lalu kuperhatikan tempat laki-laki itu berbaring, sepertinya aku pernah melihatnya, gumamku. Kemudian kucoba mengingat, siapakah laki-laki itu. Nah, yup, aku mengingatnya. Laki-laki itu adalah orang yang datang ke rumah sakit ini tempo hari dnegan keluarganya.
Wajahnya pucat, aku tidak dapat melihat bentuk matanya karena ia menggunakan kacamata. Ia hanya terdiam sambil memandang kosong ke bawah. Aku juga tidak melihat apapun yang dipegangnya, hp, ataupun buku juga tidak. Ia hanya memandangi selimut yang menutupi sebagian tubuhnya saat itu. Dalam hati ku bertanya, sedang apakah dia, dan memikirkan apa, apakah ia memikirkan penyakitnya.
Tak lama kemudian jam makan siang tiba, seorang ibu paruh baya datang ke kamarku. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya, jadi kupikir oh mungkin ia adalah ibu dari laki-laki itu. Ternyata benar, ia adalah ibu dari laki-laki itu. Ibu itu membawakan makanan dan menyuruh anaknya itu untuk makan. Namun ia terdiam, tak mau bicara. Aku terus saja memperhatikan diam-diam. Terkadang aku berpura-pura membaca buku yang sudah kubawa dari rumah. Padahal aku sangat memperhatikan mereka dengan jeli. Kemudian sang Ibu mengambilkan sesendok nasi, dengan sabar Ibu menyuapkannya ke mulut laki-laki itu. Tapi tetap saja, ia hanya diam. Tidak mau membuka mulutnya dan bersikukuh tak mau makan apapun. Sang ibu menjadi bingung. Kemudian sang ibu keluar ruangan dan mengambil ponsel dari dalam tasnya, sepertinya ibu itu sedang berusaha menelfon seseorang.
Saat sore tiba, Ibu itu datang lagi. Kali ini bersama sang ayah dan sepertinya seorang gadis yang itu adalah adiknya. Mereka menyuruh sang kakak untuk makan. Namun sang kakak tetap hanya diam dan tak menjawab apapun pertanyaan dari mereka. Uh.. sebagai calon ibu nantinya, aku sedikit kesal dengan kakak laki-laki itu. Kenapa sih makan aja susah, mau sembuh apa gak. Kasian kan orangtuanya sama adiknya. Huh..
...
Sampai malam, orang-orang itu masih di rumah sakit. Aku sampai kasihan dengan mereka. Usaha mereka sia-sia. Kuputuskan untuk pergi ke mushola. Aku merasa penat menyaksikan drama keluarga kecil yang meyedihkan. Saat aku menuju lorong, aku tidak sengaja melihat sang adik menelfon seseorang. “Kakak, tolong bantuin aku ya... Kakaku sekarang di rumah sakit trus gak mau makan. Aku sama Ibuk sama Ayah bingung gimana caranya biar kakak mau makan. Kakak lagi dimana? Di kos? Oh, lagi di rumah ya. Tolong kakak ke sini gimana? Tolong dong kak, yayaya? Kakak ke rumah sakit sekarang ya.. di ruang Bunga Mawar kak. Oke, kakak hati-hati ya..”
Hmm.. sepertinya sang adik tidak putus asa. Dia berusaha menghubungi seseorang yang bisa membuat kakaknya mau makan. Hebat, adik yang hebat pikirku. Kemudian kulajukan kursi rodaku menuju mushola. Aku berdoa untuk kesembuhan dan kelancaran rezeki kedua orangtuaku. Suapaya aku bisa cepat pergi dari rumah sakit ini. Namun bila memang penyembuhanku memerlukan banyak waktu, aku mohon Allah kuatkan aku untuk menjalani semua ini sebagai penebus dosa-dosaku selama ini. Aamiin.
Ketika aku kembali ke kamar, aku sudah tidak melihat keluarga kecil itu. Namun yang kulihat adalah seorang gadis yang sudah menyuapi laki-laki itu. Aku tercengang, karena laki-laki itu menurut sekali dengan gadis itu. Lagi-lagi aku penasaran. Pura-pura ku baca bukuku. Padahal telinga dan mataku tajam memperhatikan mereka berdua. Sang gadis menyuapi dengan lembutnya seakan sudah mengenal betul bagaimana sosok laki-laki itu. Ehm apa gadis itu adalah kakak yang ditelfon oleh adiknya tadi ya.. ehmm mungkin saja begitu.
Hingga makanan sang laki-laki habis, entah apa yang terjadi di antara mereka. Sang gadis berusaha membereskan tempat dan sisa makanan laki-laki itu. Kemudian sang gadis hendak pergi, kemudian tangannya ditarik oleh laki-laki itu, kemudian sang gadis berkata, “Bentar, mbuang ini lho, sama cuci tangan. Aku gak kemana-mana kok.” Wuwuwu.. laki-laki itu sepertinya nggak mau ditinggal sama gadis itu. Ehm.. apa gadis itu pacarnya ya? Tapi kalau pacarnya, kenapa raut muka mereka lempeng-lempeng aja. Kayak nggak ada kebahagiaan yang menghiasi wajah mereka. Anehnya lagi, mereka sedikit banget ngomongnya. Sang gadis cuma lebih sering tersenyum dan minim banget ngomong. Apalagi si laki-lakinya, cuma diem aja. Huh.. gak tau apa yang lagi dipikirin sama si laki-laki itu. Padahal si gadisnya udah bantuin sejauh ini, eh senyum kek, apa kek, makasih kek, dieem aja. Huh, aku jadi si gadis itu udah kutonjok tuh mukanya. Pura-pura lupa kalo si laki-laki itu juga lagi sakit.
...
Hah... andaikan ada yang mau merawatku seperti yang dilakukan gadis itu.  Seorang laki-laki pujaanku yang mau menyuapi, membersihkan, dan membenahi diriku yang lemah ini. Hah, itu hanya imajinasi, karena tak ada seorang temanku yang mengatahui bagaimana keadaanku saat ini. Mereka hanya tau bahwa aku cuti karena keperluan usaha keluargaku. Hah.. merindu menjadi makananku sehari-hari. Entah fisikku tambah membaik ataukah psikisku yang malah tambah memburuk. Entahlah aku hanya berusaha bertahan dan mencoba memeperbaiki hidupku, sudah itu saja.
Tak lama ku melamun, laki-laki itu sudah tertidur. Aku melihat sang gadis berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki itu. Ah, lagi-lagi laki-laki itu menarik tangan gadis itu. Entah apa yang dipikirkan oleh mereka berdua. Lagi-lagi sang gadis hanya tersenyum dan mengatakan, “Aku masih di sini, tidurlah.” Akhirnya sang gadis memutuskan untuk tidur dengan duduk. Cerita pun bersambung...
...
Sampai malam hari aku terbangun, gadis itu masih tidur di samping laki-laki itu. Sungguh baik sekali gadis itu. Hingga pagi membangunkanku, kubergerak mencoba ke mushola. Kemudian tak lama gadis itu mengikutiku ke mushola. Ia juga sholat. Mungkin ia sangat lembut, namun apabila dilihat dari caranya sholat dan meletakkan mukenah, sebenranya bisa kulihat bahwa ia cukup energik, tapi entah ada yang membuatnya begitu terlihat lemah dan apa adanya saja.
Saat kembali ke kamar, kulihat gadis itu membantu laki-laki itu untuk sholat juga dengan membawakan bejana berisi air, laki-laki itu berusaha berwudhu. Membasuhkan air sebisanya, sang gadis terlihat sangat sabar dengan keadaan itu. Kemudian laki-laki itu sholat di atas ranjangnya. Sang gadis bergegas pergi mengembalikan bejana itu dan membuang airnya ke wastafel. Sang gadis menunggu hingga laki-laki itu selesai sampai pada doanya. Gadis itu terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi ia hanya terdiam. Aku mampu melihat sorot mata yang lumpuh di sana. Entah seperti sorot mata yang taak asing bagiku. Sepertinya aku pernah mengalaminya, perasaan itu. Perasaan saat..
Mereka lama saling terdiam. Aku hanya bisa menggumam heran. Sebenarnya mereka sedang apa, apakah mereka sepasang kekasih, apakah mereka adalah sahabat atau yang lainnya. Ah.. klontang!! Uh.. gelas di sampingku jatuh. Bodoh!!! Aku merusak suasana. Seketika gadis itu melihat ke arahku, melihat aku tak mampu meraih gelasku, gadis itu mendatangiku dan membantuku mengambilnya. Dia mengulurkan tangannya, dari dekat tak negitu cantik gadis itu, tapi ia memiliki senyum yang meneduhkan. Ku katakan terimakasih, namun ia hanya tersenyum seakan mengatakan sama-sama namun ia tak mampu berbahasa apapun. Kemudian ia kembali duduk di dekat ranjang sang laki-laki. Keheningan terjadi lagi, kemudian gadis itu melirik jamnya dan menunjukkan jamnya pada sang laki-laki. Sang laki-laki mengangguk seakan mengerti bahwa gadis itu harus meninggalkannya. Sang gadis membereskan barang-barangnya dan bergegas pergi. Lagi-lagi tangan sang gadis ditahan oleh laki-laki itu. Duh.. aku yang lihat aja sampe ngenvy. Apa-apaan sih tuh laki-laki, aku menggerutu sendiri dalam benakku. Sang gadis kemudian berkata, “Aku pulang, nanti sore aku ke sini lagi.” Kemudian sang gadis pergi, dan laki-laki itu hanya terdiam. So, aku gak habis pikir, hubungan macam apa itu. Laki-laki dan perempuan macam apa mereka itu. Aneh..
Aku terus menelusuri lorong kuharap aku menemukan sesuatu yang membuatku bersemangat hari ni. Dokter yang menanganiku hanya mengingatkan untuk meminum obat dengan teratur. Entah kursi rodaku mengantarkanku sampai di warung Mak Imah. Kebetulan sedang sepi, ada mang Udin juga yang sedang membantu mak Imah. Kemudian aku menyapa mereka dengan semangat. Mereka menjawab dengan sumringah. “Eh neng Arsya, jalan-jalan neng. Mau sarapan?.” “Ndak mang, masi kenyang abis makan bubur dari rumah sakit,” jawabku spontan. Kemudian aku memerhatikan beberapa orang membeli nasi bungkus, beberapa dari mereka juga ada yang memilih makan di tempat. Aku memutar roda dan menuju toko di sebelah Mak Imah dan membeli beberapa permen. Kumakan dan kusimpan beberapa untuk teman membaca bukuku. Kemudian aku berpamitan pada Mak Ima dan Mang Udin. Seperti biasa, mereka selalu mendoakan untuk kesembuhanku.
Sampai di kamar, kulihat laki-laki itu masih terdiam di posisi itu, sesekali ia mengangkat kepalanya dan membenarkan posisi kaca matanya. Sesekali ia juga melepas kacamatanya. Terkadang ia juga merasa bahwa dari tadi aku memperhatikannya, namun aku hanya bisa berpura-pura tidak melihatnya. Wajahnya tidak sebaik saat gadis itu berada di sampingnya. Ia terlihat lebih murung. Sedikit pucat dan seperti kehilangan semangat hidup. Aku hanya bertanya dalam benakku, apakah yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu. Apakah dia depresi? Hahaha, keingintahuanku mulai menggila.
Sore itu, si gadis menepati janjinya. Ia datang lagi sore itu. Masih dengan wajah yang sama. Tidak begitu bahagia, namun berusaha memperlihatkan apa yang bisa ia lakukan yang terbaik untuk berada di sisi sang laki-laki itu. Sampai sekarang aku tidak tahu nama mereka berdua, karena mereka jarang ngomong sih..  laki-laki itu sepertinya terlihat senang, tapi kenapa seakan-akan berusaha menyembunyikan wajah bahagianya. Senyum saja tidak, padahal gadis itu datang dengan senyum yang lumayan manis.
Kali ini sepertinya gadis itu membawakan beberapa makanan ringan. Laki-laki itu sepertinya juga senang, namun lagi-lagi wajahnya mampu menyembunyikan segala perasaannya. Gadis itu dengan sabart kemudian menyuapi laki-laki itu dengan beberapa makanan itu. Mereka hanya saling menatap tanpa berkata apapun. Ah.. aku bosan melihat drama ini.. lebih baik aku pergi menghirup udara segar. Namun saat aku mencoba menuju kursi rodaku, aku terjatuh. Brakk!! Ah.. lagi-lagi aku ceroboh. Gadis itu melihatku dan membopongku naik ke atas ranjang, kemudian ia bertanya, “Nggak papa?,”aku hanya mengangguk pelan. Kemudian mulutku dengan spontan bertanya, “Apakah kau mencintainya?” dalma hati upss.. kenapa mulut ini. Dengan tersenyum ia menjawab, “Tentu.” Aku masih penasaran, “Lalu, apakah laki-laki itu juga mencintaimu?” ia tersenyum lagi, lebih lebar dari sebelumnya dan menjawab, “Menurutmu? Apakah mungkin seseorang yang membencimu bisa mencintaimu?” kemudian ia pergi setelah mengembalikan posisiku dengan benar.
Apa maksudnya? Gadis itu mencintainya, namun laki-laki itu membencinya. Apa arti semua ini? Jadi cinta dengan benci? Lalu kenapa laki-laki itu mau disuapi, mau menurutinya. Ah.. aku bingung. Tapi kalau dilihat dari wajah si gadis ada benarnya sih. Ia sangat terlihat mencintai sang laiki-laki, namun kebahagiaannya jadi tertahan karena laki-laki itu membencinya.
Ahh.. aku lebih baik  tidur. Melupakan semua itu dan fokus akan kesehatanku. Kemudian aku terbangun saat aku ingat aku belum sholat ashar. Laki-laki itu masih ditemani sang gadis, tapi gadis itu tidak ada, tapi tasnya ada, mungkin pergi kemana, entahlah bukan urusanku. Aku keluar dari kamarku, dan melihat gadis itu menangis. Oh tidak.. dia menagis menahan dadanya sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Dia mencoba menahan suaranya agar tak didengar siapapun, tapi aku memang benar-benar telah melihatnya. Telah sadar ada aku yang hendak lewat, gadis itu menyeka air matanya. Berusaha mencuci mukanya, dan kembali menuju laki-laki itu. Aku melihat mereka dari kaca jendela kamar, gadis itu tersenyum indah mengahmpiri laki-laki itu. Ah.. sudah tumbang aku menebak apa yang telah terjadi di antara mereka. Semakin jengkel, semakin cepat ku membawa kursi rodaku sampai ke mushola.
Hingga isya aku tidak kembali ke kamar, karena ada suster yang meminta bantuanku untuk merekap beberapa data dan memisahkannya ke beberapa folder. Aku memang pasien di sini, namun karena aku terlalu lama menghuni rumah sakit ini dan sering berjalan-jalan terkadang suster juga meminta bantuanku untuk hal-hal yang sederhana, seperti memindah data maupun mengecek kamar pasien.
Setelah sholat isya aku kembali ke kamar, inginku cepat-cepat menyelesaikan membaca bukuku. Penasaran dengan kisah akhirnya. Namun kulihat laki-laki itu sudah sendirian lagi, ia berbaring namun tidak tidur. Ia seperti akan mengambil sesuatu di atas meja di samping tempatya tidur, namun barang-barang yang lain ikut terjatuh, dengan sigap aku membantunya. Ku letakkan barang-barang itu di atas meja. Ia hanya tersenyum, dan tidak mengatakan apapun. Aku hanya menggerutu, makakasih kek apa kek, bisu apa. Iiih, kzl kzl kzl. Kemudian aku mematung sejenak di sampingnya, kemudian ia balik memandangku, seakan bertanya ada apa lagi? Kemudian aku bertanya, lagi-lagi pertanyaan yang spontan dan kedengaran agak tidak sopan, “Apakah kau mencintainya?” setengah membentak kukatakan pada laki-laki itu, “jawablah”, laki-laki itu hanya terdiam dan hanya melihatku dengan heran.
“Kakak mencintai gadis itu? Gadis yang selalu datang menjenguk dan menyuapi kakak. Gadis yang kemarin lusa tidur semalam duduk di sini untuk menemani kakak. Gadis yang membantu kakak berwudhu dan sholat. Apakah kakak mencintai gadis itu?” laki-laki itu masih membisu seraya menatap mataku tak percaya aku sampai menanyakan hal sepribadi itu. Ia tetap terdiam tak berkedip, kemudian membuang wajahnya melihat ke langit-langit tanpa menghiraukanku yang ada di sampingnya. “Kakak, maafkan aku harus mengatakan ini, tapi dia benar-benar mencintaimu. Dia melakukan apapun untukmu. Dia memiliki hati yang baik, dia mau menolongku. Tapi aku tidak tahu, ia berada di samping orang yang ia cintai tapi sorot matanya seakan tak mengatakan bahwa ia bahagia. Ia melakukan apapun yang membuatmu bahagia, tapi wajahnya memancarkan kepedihan yang mendalam. Bukankah ia sedang tersiksa?. Laki-laki itu tetao terdiam. Dia sekarang seakan lebih tak menganggapku ada di sampingnya. Kemudian mulutku berkata tak terkendali lagi, “Kakak mencintainya kan? Namun kakak tak pernah katakan! Kakak membutuhkannya kan? Namun kakak hanya memendam. Kakak menyayanginya kan? Namun kakak hanya diam. Kak.. ia gadis yang baik, kenapa kau gunakan kebaikannya hanya untuk melukainya. Menggunakan senyumnya hanya untuk mendustainya. Menggunakan keluguannya untuk mengendalikannya. Sekarang pertanyaanku, apakah kakak memang benar-benar manusia? Tak bisakah kakak merasakan sedikit saja penderitaan itu. Gadis itu hanya menunggu kakak mengatakannya. Kenapa kakak hanya diam? Ah yasudah, maaf aku telah lancang mengatakan semua ini.”
....


end

No comments:

Post a Comment