Ya.. Pagi itu.. Ada seseorang datang, entah dengan
penyakit atau luka apa. Walaupun ada sekerumunan orang mengelilinginya, aku
masih dapat melihatnya. Ia laki-laki berkacamata, dengan beberapa anggota
keluarganya. Ibu, ayah, dan seorang perempuan manis yang berteriak “Kakaaak..
kakaak... .” Kasihan memang, perasaan seorang gadis dengan kondisi kakaknya
yang mungkin sedang sekarat. Kukira usia laki-laki itu juga tak jauh berbeda denganku.
Esok harinya, di pagi yang damai. Aku membuka mataku
saat adzan Shubuh berkumandang. Kucoba memperkuat diriku dan mengambil air
wudhu melaksanakan sholat. Entah Allah mencatat ini sebagai ibadah yang sah
atau tidak. Aku pikir Allah Maha Pengampun yang selalu mengampuni hambaNya
walau terkadang penghambaan sang hamba itu sendiri kurang sempurna.
Ya.. namaku Arsya, apakah kedengarannya seperti nama
seorang laki-laki? Bukan, aku perempuan, usiaku baru saja di awal 20-tahunan.
Aku sedang berkuliah, namun kupikir mengambil cuti dan menyelesaikan
penyembuhan tubuhku di rumah sakit ini jauh lebih penting dari apapun.
Sehari-hari di rumah sakit rasanya menyenangkan, setidaknya aku bersama
orang-orang yang butuh pengobatan yang sama sepertiku. Terkadang aku
menghampiri mereka yang tidak didampingi
oleh keluarga dan bergabung berbagi makanan dan terkadang bercerita. Aku senang
sekali mendengarkan cerita-cerita mereka. Sampai-sampai dokter dan suster
sering mencariku karena aku suka keluar dari ruang perawatanku.
Bagaimana lagi,
sendirian itu sangat tidak menyenangkan, membosankan, dan solusinya adalah..
yups.. mencari teman. Setiap pagi aku keluar gedung untuk menghirup udara
segar. Terkadang aku juga sering ke kantin untuk mencari beberapa makanan
karena terkadang perutku lapar saat makanan dari rumah sakit belum tiba. Aku juga
tak mengerti sakit apa sebenarnya aku ini. Padahal aku bisa kesana kemari,
walaupun hanya dengan kursi roda. Aku mensyukurinya.. entah bagian mana dari
tubuhku yang tidak kuat untuk menopang massa tubuhku sehingga aku harus
menggunakan bantuan kursi roda.
...
Tak terasa
olehku, hari mulai siang. Aku terlalu asyik mengobrol dengan Mak Imah, yang
berjualan di kantin. Ia seperti Ibu kedua di sini. Maklum saja, orangtuaku
harus bekerja sehingga aku disini harus mampu mengatur diri sendiri di sini.
Mak Ima lah yang selalu menjadi tempat dimana aku bisa bercerita, bercanda, dan
terkadang membantunya mengupas timun atau sekedar mengelap piring dan sendok.
Kuputuskan
untuk kembali ke ruangan tempatku di rawat. Tempatnya di ruang Bunga Mawar.
Entah kenapa nama ruangan menggunakan nama bunga, karena memang yang kutahu di
sini semua ruangan menggunakan nama bunga. Di ruangan ini ada sekitar 6 tempat
untuk perawatan pasien. Namun untuk saat ini hanya ada 4 tempat yang sudah
terpakai, 2 diantaranya kosong.
Sampai di kamar,
aku mencuci tangan dan kakiku terlebih dahulu sebelum aku naik ke atas kasurku.
Setelah bersih, aku mencoba berbaring. Seperti biasa, aku harus menunggu dokter
untuk memeriksa perkembangan kesehatanku. Namun aku merasa berbeda di ruangan
ini, entah kenapa. Kemudian mataku langsung tertuju di tempat tidur yang
sebelumya kosong, kini telah ditempati oleh seorang laki-laki. Lalu
kuperhatikan tempat laki-laki itu berbaring, sepertinya aku pernah melihatnya,
gumamku. Kemudian kucoba mengingat, siapakah laki-laki itu. Nah, yup, aku
mengingatnya. Laki-laki itu adalah orang yang datang ke rumah sakit ini tempo
hari dnegan keluarganya.
Wajahnya pucat,
aku tidak dapat melihat bentuk matanya karena ia menggunakan kacamata. Ia hanya
terdiam sambil memandang kosong ke bawah. Aku juga tidak melihat apapun yang
dipegangnya, hp, ataupun buku juga tidak. Ia hanya memandangi selimut yang
menutupi sebagian tubuhnya saat itu. Dalam hati ku bertanya, sedang apakah dia,
dan memikirkan apa, apakah ia memikirkan penyakitnya.
Tak lama
kemudian jam makan siang tiba, seorang ibu paruh baya datang ke kamarku. Aku
belum pernah melihatnya sebelumnya, jadi kupikir oh mungkin ia adalah ibu dari
laki-laki itu. Ternyata benar, ia adalah ibu dari laki-laki itu. Ibu itu
membawakan makanan dan menyuruh anaknya itu untuk makan. Namun ia terdiam, tak
mau bicara. Aku terus saja memperhatikan diam-diam. Terkadang aku berpura-pura
membaca buku yang sudah kubawa dari rumah. Padahal aku sangat memperhatikan
mereka dengan jeli. Kemudian sang Ibu mengambilkan sesendok nasi, dengan sabar
Ibu menyuapkannya ke mulut laki-laki itu. Tapi tetap saja, ia hanya diam. Tidak
mau membuka mulutnya dan bersikukuh tak mau makan apapun. Sang ibu menjadi
bingung. Kemudian sang ibu keluar ruangan dan mengambil ponsel dari dalam
tasnya, sepertinya ibu itu sedang berusaha menelfon seseorang.
Saat sore tiba,
Ibu itu datang lagi. Kali ini bersama sang ayah dan sepertinya seorang gadis
yang itu adalah adiknya. Mereka menyuruh sang kakak untuk makan. Namun sang
kakak tetap hanya diam dan tak menjawab apapun pertanyaan dari mereka. Uh..
sebagai calon ibu nantinya, aku sedikit kesal dengan kakak laki-laki itu.
Kenapa sih makan aja susah, mau sembuh apa gak. Kasian kan orangtuanya sama
adiknya. Huh..
...
Sampai malam,
orang-orang itu masih di rumah sakit. Aku sampai kasihan dengan mereka. Usaha
mereka sia-sia. Kuputuskan untuk pergi ke mushola. Aku merasa penat menyaksikan
drama keluarga kecil yang meyedihkan. Saat aku menuju lorong, aku tidak sengaja
melihat sang adik menelfon seseorang. “Kakak, tolong bantuin aku ya... Kakaku
sekarang di rumah sakit trus gak mau makan. Aku sama Ibuk sama Ayah bingung
gimana caranya biar kakak mau makan. Kakak lagi dimana? Di kos? Oh, lagi di
rumah ya. Tolong kakak ke sini gimana? Tolong dong kak, yayaya? Kakak ke rumah
sakit sekarang ya.. di ruang Bunga Mawar kak. Oke, kakak hati-hati ya..”
Hmm..
sepertinya sang adik tidak putus asa. Dia berusaha menghubungi seseorang yang
bisa membuat kakaknya mau makan. Hebat, adik yang hebat pikirku. Kemudian kulajukan
kursi rodaku menuju mushola. Aku berdoa untuk kesembuhan dan kelancaran rezeki
kedua orangtuaku. Suapaya aku bisa cepat pergi dari rumah sakit ini. Namun bila
memang penyembuhanku memerlukan banyak waktu, aku mohon Allah kuatkan aku untuk
menjalani semua ini sebagai penebus dosa-dosaku selama ini. Aamiin.
Ketika aku
kembali ke kamar, aku sudah tidak melihat keluarga kecil itu. Namun yang
kulihat adalah seorang gadis yang sudah menyuapi laki-laki itu. Aku tercengang,
karena laki-laki itu menurut sekali dengan gadis itu. Lagi-lagi aku penasaran.
Pura-pura ku baca bukuku. Padahal telinga dan mataku tajam memperhatikan mereka
berdua. Sang gadis menyuapi dengan lembutnya seakan sudah mengenal betul
bagaimana sosok laki-laki itu. Ehm apa gadis itu adalah kakak yang ditelfon
oleh adiknya tadi ya.. ehmm mungkin saja begitu.
Hingga makanan
sang laki-laki habis, entah apa yang terjadi di antara mereka. Sang gadis
berusaha membereskan tempat dan sisa makanan laki-laki itu. Kemudian sang gadis
hendak pergi, kemudian tangannya ditarik oleh laki-laki itu, kemudian sang
gadis berkata, “Bentar, mbuang ini lho, sama cuci tangan. Aku gak kemana-mana
kok.” Wuwuwu.. laki-laki itu sepertinya nggak mau ditinggal sama gadis itu.
Ehm.. apa gadis itu pacarnya ya? Tapi kalau pacarnya, kenapa raut muka mereka
lempeng-lempeng aja. Kayak nggak ada kebahagiaan yang menghiasi wajah mereka.
Anehnya lagi, mereka sedikit banget ngomongnya. Sang gadis cuma lebih sering
tersenyum dan minim banget ngomong. Apalagi si laki-lakinya, cuma diem aja.
Huh.. gak tau apa yang lagi dipikirin sama si laki-laki itu. Padahal si
gadisnya udah bantuin sejauh ini, eh senyum kek, apa kek, makasih kek, dieem
aja. Huh, aku jadi si gadis itu udah kutonjok tuh mukanya. Pura-pura lupa kalo
si laki-laki itu juga lagi sakit.
...
Hah... andaikan
ada yang mau merawatku seperti yang dilakukan gadis itu. Seorang laki-laki pujaanku yang mau menyuapi,
membersihkan, dan membenahi diriku yang lemah ini. Hah, itu hanya imajinasi,
karena tak ada seorang temanku yang mengatahui bagaimana keadaanku saat ini.
Mereka hanya tau bahwa aku cuti karena keperluan usaha keluargaku. Hah..
merindu menjadi makananku sehari-hari. Entah fisikku tambah membaik ataukah
psikisku yang malah tambah memburuk. Entahlah aku hanya berusaha bertahan dan
mencoba memeperbaiki hidupku, sudah itu saja.
Tak lama ku
melamun, laki-laki itu sudah tertidur. Aku melihat sang gadis berusaha untuk
melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki itu. Ah, lagi-lagi laki-laki itu
menarik tangan gadis itu. Entah apa yang dipikirkan oleh mereka berdua.
Lagi-lagi sang gadis hanya tersenyum dan mengatakan, “Aku masih di sini,
tidurlah.” Akhirnya sang gadis memutuskan untuk tidur dengan duduk. Cerita pun
bersambung...
...
Sampai malam
hari aku terbangun, gadis itu masih tidur di samping laki-laki itu. Sungguh
baik sekali gadis itu. Hingga pagi membangunkanku, kubergerak mencoba ke
mushola. Kemudian tak lama gadis itu mengikutiku ke mushola. Ia juga sholat.
Mungkin ia sangat lembut, namun apabila dilihat dari caranya sholat dan
meletakkan mukenah, sebenranya bisa kulihat bahwa ia cukup energik, tapi entah
ada yang membuatnya begitu terlihat lemah dan apa adanya saja.
Saat kembali ke
kamar, kulihat gadis itu membantu laki-laki itu untuk sholat juga dengan
membawakan bejana berisi air, laki-laki itu berusaha berwudhu. Membasuhkan air
sebisanya, sang gadis terlihat sangat sabar dengan keadaan itu. Kemudian
laki-laki itu sholat di atas ranjangnya. Sang gadis bergegas pergi
mengembalikan bejana itu dan membuang airnya ke wastafel. Sang gadis menunggu
hingga laki-laki itu selesai sampai pada doanya. Gadis itu terlihat ingin
mengatakan sesuatu, tapi ia hanya terdiam. Aku mampu melihat sorot mata yang
lumpuh di sana. Entah seperti sorot mata yang taak asing bagiku. Sepertinya aku
pernah mengalaminya, perasaan itu. Perasaan saat..
Mereka lama
saling terdiam. Aku hanya bisa menggumam heran. Sebenarnya mereka sedang apa,
apakah mereka sepasang kekasih, apakah mereka adalah sahabat atau yang lainnya.
Ah.. klontang!! Uh.. gelas di sampingku jatuh. Bodoh!!! Aku merusak suasana.
Seketika gadis itu melihat ke arahku, melihat aku tak mampu meraih gelasku,
gadis itu mendatangiku dan membantuku mengambilnya. Dia mengulurkan tangannya,
dari dekat tak negitu cantik gadis itu, tapi ia memiliki senyum yang
meneduhkan. Ku katakan terimakasih, namun ia hanya tersenyum seakan mengatakan
sama-sama namun ia tak mampu berbahasa apapun. Kemudian ia kembali duduk di
dekat ranjang sang laki-laki. Keheningan terjadi lagi, kemudian gadis itu
melirik jamnya dan menunjukkan jamnya pada sang laki-laki. Sang laki-laki
mengangguk seakan mengerti bahwa gadis itu harus meninggalkannya. Sang gadis
membereskan barang-barangnya dan bergegas pergi. Lagi-lagi tangan sang gadis
ditahan oleh laki-laki itu. Duh.. aku yang lihat aja sampe ngenvy. Apa-apaan sih tuh laki-laki, aku
menggerutu sendiri dalam benakku. Sang gadis kemudian berkata, “Aku pulang,
nanti sore aku ke sini lagi.” Kemudian sang gadis pergi, dan laki-laki itu
hanya terdiam. So, aku gak habis pikir, hubungan macam apa itu. Laki-laki dan
perempuan macam apa mereka itu. Aneh..
Aku terus
menelusuri lorong kuharap aku menemukan sesuatu yang membuatku bersemangat hari
ni. Dokter yang menanganiku hanya mengingatkan untuk meminum obat dengan
teratur. Entah kursi rodaku mengantarkanku sampai di warung Mak Imah. Kebetulan
sedang sepi, ada mang Udin juga yang sedang membantu mak Imah. Kemudian aku
menyapa mereka dengan semangat. Mereka menjawab dengan sumringah. “Eh neng
Arsya, jalan-jalan neng. Mau sarapan?.” “Ndak mang, masi kenyang abis makan
bubur dari rumah sakit,” jawabku spontan. Kemudian aku memerhatikan beberapa
orang membeli nasi bungkus, beberapa dari mereka juga ada yang memilih makan di
tempat. Aku memutar roda dan menuju toko di sebelah Mak Imah dan membeli
beberapa permen. Kumakan dan kusimpan beberapa untuk teman membaca bukuku.
Kemudian aku berpamitan pada Mak Ima dan Mang Udin. Seperti biasa, mereka
selalu mendoakan untuk kesembuhanku.
Sampai di
kamar, kulihat laki-laki itu masih terdiam di posisi itu, sesekali ia
mengangkat kepalanya dan membenarkan posisi kaca matanya. Sesekali ia juga
melepas kacamatanya. Terkadang ia juga merasa bahwa dari tadi aku
memperhatikannya, namun aku hanya bisa berpura-pura tidak melihatnya. Wajahnya
tidak sebaik saat gadis itu berada di sampingnya. Ia terlihat lebih murung.
Sedikit pucat dan seperti kehilangan semangat hidup. Aku hanya bertanya dalam
benakku, apakah yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu. Apakah dia depresi?
Hahaha, keingintahuanku mulai menggila.
Sore itu, si
gadis menepati janjinya. Ia datang lagi sore itu. Masih dengan wajah yang sama.
Tidak begitu bahagia, namun berusaha memperlihatkan apa yang bisa ia lakukan
yang terbaik untuk berada di sisi sang laki-laki itu. Sampai sekarang aku tidak
tahu nama mereka berdua, karena mereka jarang ngomong sih.. laki-laki itu sepertinya terlihat senang,
tapi kenapa seakan-akan berusaha menyembunyikan wajah bahagianya. Senyum saja
tidak, padahal gadis itu datang dengan senyum yang lumayan manis.
Kali ini
sepertinya gadis itu membawakan beberapa makanan ringan. Laki-laki itu
sepertinya juga senang, namun lagi-lagi wajahnya mampu menyembunyikan segala
perasaannya. Gadis itu dengan sabart kemudian menyuapi laki-laki itu dengan
beberapa makanan itu. Mereka hanya saling menatap tanpa berkata apapun. Ah..
aku bosan melihat drama ini.. lebih baik aku pergi menghirup udara segar. Namun
saat aku mencoba menuju kursi rodaku, aku terjatuh. Brakk!! Ah.. lagi-lagi aku
ceroboh. Gadis itu melihatku dan membopongku naik ke atas ranjang, kemudian ia
bertanya, “Nggak papa?,”aku hanya mengangguk pelan. Kemudian mulutku dengan
spontan bertanya, “Apakah kau mencintainya?” dalma hati upss.. kenapa mulut
ini. Dengan tersenyum ia menjawab, “Tentu.” Aku masih penasaran, “Lalu, apakah
laki-laki itu juga mencintaimu?” ia tersenyum lagi, lebih lebar dari sebelumnya
dan menjawab, “Menurutmu? Apakah mungkin seseorang yang membencimu bisa
mencintaimu?” kemudian ia pergi setelah mengembalikan posisiku dengan benar.
Apa maksudnya?
Gadis itu mencintainya, namun laki-laki itu membencinya. Apa arti semua ini? Jadi
cinta dengan benci? Lalu kenapa laki-laki itu mau disuapi, mau menurutinya. Ah..
aku bingung. Tapi kalau dilihat dari wajah si gadis ada benarnya sih. Ia sangat
terlihat mencintai sang laiki-laki, namun kebahagiaannya jadi tertahan karena
laki-laki itu membencinya.
Ahh.. aku lebih
baik tidur. Melupakan semua itu dan
fokus akan kesehatanku. Kemudian aku terbangun saat aku ingat aku belum sholat
ashar. Laki-laki itu masih ditemani sang gadis, tapi gadis itu tidak ada, tapi
tasnya ada, mungkin pergi kemana, entahlah bukan urusanku. Aku keluar dari
kamarku, dan melihat gadis itu menangis. Oh tidak.. dia menagis menahan dadanya
sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Dia mencoba menahan suaranya agar tak
didengar siapapun, tapi aku memang benar-benar telah melihatnya. Telah sadar
ada aku yang hendak lewat, gadis itu menyeka air matanya. Berusaha mencuci
mukanya, dan kembali menuju laki-laki itu. Aku melihat mereka dari kaca jendela
kamar, gadis itu tersenyum indah mengahmpiri laki-laki itu. Ah.. sudah tumbang
aku menebak apa yang telah terjadi di antara mereka. Semakin jengkel, semakin
cepat ku membawa kursi rodaku sampai ke mushola.
Hingga isya aku
tidak kembali ke kamar, karena ada suster yang meminta bantuanku untuk merekap
beberapa data dan memisahkannya ke beberapa folder. Aku memang pasien di sini,
namun karena aku terlalu lama menghuni rumah sakit ini dan sering
berjalan-jalan terkadang suster juga meminta bantuanku untuk hal-hal yang
sederhana, seperti memindah data maupun mengecek kamar pasien.
Setelah sholat
isya aku kembali ke kamar, inginku cepat-cepat menyelesaikan membaca bukuku.
Penasaran dengan kisah akhirnya. Namun kulihat laki-laki itu sudah sendirian
lagi, ia berbaring namun tidak tidur. Ia seperti akan mengambil sesuatu di atas
meja di samping tempatya tidur, namun barang-barang yang lain ikut terjatuh,
dengan sigap aku membantunya. Ku letakkan barang-barang itu di atas meja. Ia
hanya tersenyum, dan tidak mengatakan apapun. Aku hanya menggerutu, makakasih
kek apa kek, bisu apa. Iiih, kzl kzl kzl. Kemudian aku mematung sejenak di
sampingnya, kemudian ia balik memandangku, seakan bertanya ada apa lagi?
Kemudian aku bertanya, lagi-lagi pertanyaan yang spontan dan kedengaran agak
tidak sopan, “Apakah kau mencintainya?” setengah membentak kukatakan pada
laki-laki itu, “jawablah”, laki-laki itu hanya terdiam dan hanya melihatku
dengan heran.
“Kakak
mencintai gadis itu? Gadis yang selalu datang menjenguk dan menyuapi kakak.
Gadis yang kemarin lusa tidur semalam duduk di sini untuk menemani kakak. Gadis
yang membantu kakak berwudhu dan sholat. Apakah kakak mencintai gadis itu?”
laki-laki itu masih membisu seraya menatap mataku tak percaya aku sampai
menanyakan hal sepribadi itu. Ia tetap terdiam tak berkedip, kemudian membuang
wajahnya melihat ke langit-langit tanpa menghiraukanku yang ada di sampingnya.
“Kakak, maafkan aku harus mengatakan ini, tapi dia benar-benar mencintaimu. Dia
melakukan apapun untukmu. Dia memiliki hati yang baik, dia mau menolongku. Tapi
aku tidak tahu, ia berada di samping orang yang ia cintai tapi sorot matanya
seakan tak mengatakan bahwa ia bahagia. Ia melakukan apapun yang membuatmu
bahagia, tapi wajahnya memancarkan kepedihan yang mendalam. Bukankah ia sedang
tersiksa?. Laki-laki itu tetao terdiam. Dia sekarang seakan lebih tak
menganggapku ada di sampingnya. Kemudian mulutku berkata tak terkendali lagi,
“Kakak mencintainya kan? Namun kakak tak pernah katakan! Kakak membutuhkannya
kan? Namun kakak hanya memendam. Kakak menyayanginya kan? Namun kakak hanya
diam. Kak.. ia gadis yang baik, kenapa kau gunakan kebaikannya hanya untuk
melukainya. Menggunakan senyumnya hanya untuk mendustainya. Menggunakan
keluguannya untuk mengendalikannya. Sekarang pertanyaanku, apakah kakak memang
benar-benar manusia? Tak bisakah kakak merasakan sedikit saja penderitaan itu.
Gadis itu hanya menunggu kakak mengatakannya. Kenapa kakak hanya diam? Ah
yasudah, maaf aku telah lancang mengatakan semua ini.”
....
end
No comments:
Post a Comment