Tuesday, January 9, 2018

Tentang Kebahagiaan Kita

Hai pagi yang bersinar cerah..
Aku menyambut sejukmu dalam perjalananku ke sekolah mengantar jagoanku..
Kuawali pagiku dengan berkeliling mengayuh sepedaku..
Harus kuingat kembali bahwa aku telah memutuskan untuk masuk dan merasakan dengan lebih nyata bagaimana kebahagiaanku yang sebenarnya..
Karena kebahagiaan yang selama ini tersusun tidak pada tempatnya di pikiranku..
Entah mungkin ada kesalahan pada sistem limbikku..
Selama ini aku memandang bahwa kebahagiaan itu hanya cukup untuk kurasakan, kusaksikan, kudengarkan, dan kuperhatikan..
Dan lagi-lagi aku didustai oleh hati dan perasaanku sendiri..
Mungkin bukan itu yang ssbenarnya tepat dalam hidupku..
Terasa menyenangkan memang, tapi entah..
Ada sisi lain dalam benakku yang tertekan dan menjerit haaah..



Aku sadar, aku salah dalam mengonsep dan memahami kebahagiaanku sendiri..
Aku baru saja menyadarinya, bahwa kebahagiaan itu tidak hanya menyenangkan ketika dirasakan, diperhatikan, dan saat diberikan..
Tapi kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika kita mampu berbaur di dalam kebahagiaan itu sendiri, masuk dan ikut merasakan kebersamaan dengan kebahagiaan itu..
Bukan hanya menciptakan, merasakan, mendengarkan, tapi perlu ada diri kita di dalam kebahagiaan itu..
Peran kita untuk memainkan kebahagiaan itu. Adanya diri kita secara nyata dalam kebahagiaan itu sendiri..

Bukan kebahagiaan namanya bila kita berusaha membuat orang lain tersenyum, namun diri kita sendiri tersayat perih..
Bukan kebahagiaan namanya bila kita memberikan setiap hal yang dibutuhkan oleh orang lain tapi kita sendiri tidak mendapatkan apa yang kita butuhkan..
Bukan kebahagiaan namanya bila kita mampu menciptakan tawa dan ikatan yang erat namun kita sendiri tidak berbaur dan ikut memperkuat ikatannya..

Bukan kebahagiaan namanya bila pengorbanan dan perjuangan kita untuk orang lain supaya ia bahagia, namun sebenarnya dia tidak menginginkan itu dan malah sebaliknya, sebenarnya dia tidak pernah bahagia dengan pengorbanan dan perjuangan kita, serta apapun yang kita berikan padanya..
Itu bukan kebahagiaan tapi hanya sebuah penderitaan..
Lalu bagaimana kebahagiaan itu seharusnya?
Ada yang bilang kalau jangan berharap untuk diberi..
Berikanlah dulu, maka kau akan diberi..
Ada yang bilang untuk jangan tersenyum ketika bahagia saja, tapi tersenyumlah dulu baru engkau kan merasakan kebahagiaan..
Bukan mengharap balasan..
Namun kita harus belajar untuk ikhlas dan rela terlebih dulu, setelah kita bisa ikhlas, maka Tuhan akan berikan apa yang membuat kita bahagia dan apa yang kita butuhkan.

Jadi..
Kebahagiaan adalah ketika apa yang kita berikan untuk diri kita/org lain itu memang merupakan kebutuhan yang memang kita/orang lain inginkan..
Ketika kita beri mereka senang, ketika mereka tau kitalah yang memberikannya mereka pun juga senang..
Ketika mereka mampu menangkap pesan kasih sayang dari kita..
Kemudian terpancar wajah yang bersinar penuh kasih sayang pula kemudian senyuman merekah pada wajah mereka seraya menatap mata kita..
Saat itulah ketulusan kita diterima dengan senang dan damai..
Seraya kita ikut tersenyum sebagai tanda bahwa kita mengerti perasaan kasih itu..
Saat itulah kebahagiaan yang sesungguhnya telah datang..
Saat itulah segala bentuk perasaan di dada tak dapat lagi diungkapkan lewat kata..
Tak ada satupun kata yang mampu mewakili perasaan emosional saat itu..

Iya..
Selama ini aku memang kurang memahami tentang konsep kebahagiaanku sendiri..
Kebahagiaan adalah tentang kedamaian, ketenangan, dan berusaha menjadi lebih baik dan menjadi lebih mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan pada kita..
Kebahagiaan bukan tentang usaha untuk membuat orang lain bahagia tapi kita sendiri tidak bahagia..

Kebahagiaan adalah ketika orang lain bahagia dan kita juga bahagia…^^

No comments:

Post a Comment