Assalamualaikum Warahmatullaahi
Wabarakaatuh.
Ya mengertilah. Ini sudah memasuki UAS hari pertama.
Jadwal sudah tertera bahwa UAS akan dimulai pukul tujuh WIB. Jam pertama adalah
mata kuliah yang penting banget. Akan tetapi semua berubah saat aku mulai salah
melihat waktu pada jadwal.
Pagi itu aku bergegas berangkat pagi-pagi sekali.
Hanya dengan sarapan energen dan memtuskan untuk berangkat lebih awal menuju
masjid dekat kampus untuk belajar dan mereview dua mata kuliah yang akan
di-UASkan nanti. Ya, kuawali dengan niat yang teguh di hati, karena pada
malamnya sama sekali tak kusempatkan untuk belajar. Waktu menunjukkan pukul
enam lebih, aku mulai membuka laptop dan kertas-kertas catatanku dan mulai
belajar butri demi butir bab. Hingga pukul tujuh lebih tiga puluh menit, aku bergegas
melangkah menuju kampus, entah mengapa seolah tubuhku menuntun seperti itu.
Samapi di kampus, tepatnya di ruangan tempat UAS, oh
tidaak, kulihat teman-temanku sudah duduk rapi dan anteng sedang mengerjakan
soal UAS. Seketika aku langsung kaget, mengambil langkah mundur kemudian
memakai jas almamater dan mengeluarkan alat tulis dari dalam tasku. Kemudian
kuambil langkah seribu dan memberanikan diri untuk ijin masuk mengikuti UAS.
Assalamualaikum Bu, maaf saya terlambat bu. Kenapa mbak?. Saya salah lihat
jadwal Bu, saya kira dimulai pukul delapan lebih empat puluh menit. Eh, kalian
memang ada perubahan jadwal?. Tidaaaaak, jawab teman-temanku serempak. Aku tidak
tahu, aku hanya mengatakan maaf dan mengatakan bahwa saya kira, saya kira, saya
kira dimulai pukul delapan lebih empat puluh menit. Dan akhirnya, yasudah mbak,
untung terlambatmu tidak lebih dari 30 menit, tidak ada tambahan waktu lho ya,
duduklah. Alhamdulillaaah, aku menghela nafas lega. Dan masih dengan tangan
yang dingin serta bergetar. Kucoba menuliskan identitas dan membaca soalnya,
takut ketinggalan dan tidak selesai kutulis jawabannya dengan sangat cepat dan pastinya
banyak. Seakan-akan soal itu ibaratkan sebuah judul cerita dongeng dunia
fantasi dan kita menuliskannya dalam bentuk cerpen. Kata temen-temen sih,
mengarang bebas. Tapi itulah UAS, sebanyak apapun jawabannya, sesuai dengan
teori serta menjadi pembuktian hasil
belajar selama satu semester. Kemudian kuselesaikan hingga akhir, walau ada
beberapa nomor yang tidak kuketahui jawabnnya tapi Alhamdulillah nomor lainnya
lancaaar. Tapi tetap bersyukur saja lah, kataku.
Sampai pada penghujung pengerjaan, satu demi satu dari
kami keluar. Dan satu demi satu teman-teman menanyakan, kamu tadi dari mana?,
dan bla bla bla bla. Yang paling mengejutkan adalah ketika teman-teman dekatku
mengatakan bahwa, untung saja kamu tidak dimarahi, soalnya temen-temen yang
telat sebelum kamu tadi dimarahi abis-abisan. Ya Allah, sungguh besar karuniaMu,
telah Engkau luluhkan hati sang Dosenku. Lalu tanya temanku, kenapa kau bisa
telat? Hehe sebenarnya tidak ada yang salah dengan jadwal yang kutulis, aku
menuliskannya pukul tujuh hingga delapan lebih empat puluh menit, namun
atensiku atau perhatianku tertuju pada angka delapan lebih empat puluh menit
tersebut. Sehingga aku datang terlambat. Tapi untung lho ya kamu gak dateng pukul
setengah sembilan beneran. Hehe dalam hati aku sangaaaaaat bersyukur. Ya Allah
kejutan apa lagi yang Engkau berikan padaku. Engkau sungguh Maha Pengasih dan
Maha Penyayang, tiada yang dapat melebihiMu ya Allaaah. Kau menunutun diri ini
melangkah lebih pagi dan bertemu dengan sebuah masalah, namun tak Kau birakan
masalah itu menjadi semakin besar. Sungguh aku tidak tahu harus berkata apa
lagi.
Dari kisahku tadi, ambil hikmahnya ya, dan perlu
digaris bawahi bahwa tubuh ini serasa dituntun untuk datang lebih pagi walaupun
yang diketahui adalah waktu yang salah. Dan ketika di masjid tadi, kebetulan
saya menyempatkan diri untuk shalat dhuha terlebih dahulu sebanyak enam rakaat.
Mungkin itulah penyebab luluhnya hati sang Ibu dosen. Wallaahu’alam. Semoga menginspirasi
dan bermanfaat.
Wassalamualaikum Warahmatulaahi Wabarakaatuh.
No comments:
Post a Comment