Assalamualaikum semuanya :)
emm tidak lengkap bukan, Assalamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh :)
"......"
Terimakasih buat yang uda jawab salam saya, lebih-lebih dijawab lengkap, subhanallaah, semoga rejekinya lancar teruus. Aamiin. emm, mohon maaf sebelumnya nih buat reader, ini tulisannya masih rancu. Maklumin ya, saya masih pemula, dan ndak ada tujuan lain selain ingin berbagi.
Langsung aja ke ceritanya. Pengalaman pribadi sih. Semoga menginspirasi buat teman-teman.
Sudah biasa kalau mahasiswi semester 3 suka ngeluh, pengen liburan, refreshing, dan udah pengen nikah. Karena menurut sebagian besar teman-teman, kuliah ya gitu-gitu aja. Padahal kita semua juga tau, kuliah itu penting, materinya menjadi dasar-dasar kita untuk melanjutkan studi ataupun penerapannya dalam lapangan kerja kita besok. tapi nyatanya.. :D kenapa siiih para mahasiswi inii. Terutama saya, mahasiswi di salah satu universitas di Surabaya ini rasanya udah kayak angkat tangan deh. Tugas, kerja kelompok, presentasi, review, dan segalanya. Sebenernya juga ndak salah tapi apakah saya yang salah menempatkan diri. Ah entahlah.
Di pagi yang cerah waktu itu udah memasuki minggu tenang, dimana mahasiswa dan mahasiswi menghabiskan waktunya untuk berlibur, belajar, dan beristirahat dengan tenang menjelang UAS. Kebetulan Sabtu malem, saya dapat sms dari salah satu guru saya dulu di SMA. Saya diminta untuk datang besok, ke SMA saya dulu dengan memakai seragam SMA dulu untuk ikut team paduan suara sekolah pada upacara peringatan salah satu lembaga yang menaungi sekolah.
Bayangin aja, malem-malem diberitau mendadak, besok pagi-pagi banget harus bangun, dengan seragam yang lupa dimana naruhnya, suda hilang atau belum. Ah, apalah. Saya agak jengkel gitu. Kenapa sih. Ini hari libur saya, please, tolong jangan ganggu. Saya juga sudah alumnus. Sampe salah satu temen ngajak buat ikut, dan akhirnya saya bilang iya, dan dia mau njemput saya di rumah. Hmm emang dia baik dan nurut banget sama guru. Ndak kayak saya :D
So, keesokan harinya, pagi-pagi banget, cari-cari seragam, dan akhirnya ketemu, nyetrika, dsbg. Temen saya udah jemput. Dan saya berangkat dengan wajah yang cemberut, alias belum ikhlas dan lain-lain. Ya, saya tahu, saya begitu jahat, dan bla bla bla.
Sampai di SMA saya, semua sudah bersiap untuk upacara. Kami team paduan suara menampilkan sebagus mugkin. Dan, banyak banget perubahan. Team paduan suara adek-adek keren banget. Sudah banyak lagi yang diaransemen. Top cer kayak perpaduan paduan suara, acapella, dan sedikit-sedikit rap di sela-sela lagunya. Ternyata lagu itu dipakai untuk lomba tahun kemaren di salah satu universitas Islam di Surabaya. WOW adek-adekku. Keren banget. Dan team paskib juga ndak kalah keren. Mereka tampil dengan memukau, gerakannya serempak bak pengibar bendera profesional. Ndak diragukan lagi, pasti latihan mereka begitu keras dan ga pantang menyerah. SALUT banget buat SMA ini. Itu satu yang pertama buat saya tersenyum gembira di hari itu.
Walaupun panas, dengan anamat pembina upacara yang ndak begitu panjang dan sedikit-sedikit ada ndagel-nya, itu bikin kesan yang gimana gitu. Upacara yang panjang itu jadi ga kerasa lama. Kami pun juga sudah memkasimalkan penampilan, walaupun saya sendiri sebagai alumnus juga kurang paham dengan aransemen tapi saya bener-bener bangga dengan Guru serta adek-adek semua yang udah berjuang meneruskan perjuangan kami sebegai generasi pendahulunya. Bener-bener nostalgia. Dengan teman lama saya, dimana dulu waktu kita SMA, dia begitu baik dan deket banget dengan saya. Sempet sih, dia pegang stik dirijen, ah seneng baget rasanya. Itu yang kedua.
Setelah upacara selesai, guru kami menginstruksikan untuk menyanyikan lagu lainnya dengan penuh semangat, seakan berkata bahwa ayo kita bernyanyi, tunjukkan kalau karya kita bagus, mumpung ada segala fasilitas supaya ada apresiasi dari hasil jerih payah kita latihan selama ini dan demi waktu yang kita habiskan bersama, ayo bernyanyi. Kami bernyanyi, senang sekali. Saya merasa semua beban teragkat, lepas, tiada yang membeban lagi di pikiran saya. Semua stress, nervous, hilang seketika dengan bernyanyi. Itu yang ketiga. Walau sebenarnya hal tersebut saya tahu dari teman baik saya :D its ok lah, saya memang ndak bisa melihat hal-hal yang halus seperti itu :D
Yak, matahari semakin menyengat, setelah menyanyikan beberapa lagu, kami berfoto bersama, guru kami, yang sudah sepuh, rela membagi waktunya untuk kami, untuk anak didiknya. Membuat saya menyesal mengapa sms dari beliau kemarin tidak saya balas. Kemudian kami diberi arahan untuk ke ruang guru terlebih dahulu. Kami diberi kue kering, enak sekali, dan diberi satu kotak nasi dari salah satu rumah makan ternama di daerah kami. WOW Ya Allah Gusti, gitu saya berangkat seakan-akan merasa terpaksa bersama perasaan suudzon lainnya. Sungguh mulia hati guru dan teman saya yang mengajak saya pagi hari itu. Subhanallah, saya harus banyak-banyak bersyukur untuk itu semua. Itu yang keempat.
Belum lagi ternyata setelah menulis nama, guru saya memberikan amplop, Subhanallaaah ya Allah mimpi apa saya tadi malam, datang dengan wajah yang cemberut, setelah sampai di tempat mendapatkan banyak rejeki. Ya Allah ampuni saya karena sudah bersuudzon pada hari ini. Itu yang kelima.
Oke, setelah itu saya dan teman saya pamit untuk pulang karena teman saya hendak pergi ke luar kota ke rumah sang Ayah. Yak, kami menuju tempat parkir, dan dengan tidak diduga-duga, teman saya yang berkuliah di salah sati universitas Islam di Malang itu memberikan saya hadiah jilbab, wow ada hajat apa tanyaku, dia menjawab dengan senyum indahnya, ndak ada hajat apa-apa, aku cuma pengen ngasih kamu. Subhanallah terbuat dari apa hati saudaraku ini ya Allah. Allah sungguh Maha Besar memberikan hari yang berkesan dalam hidup ini. Itu yang keenam. Memang sih teman saya itu sudah memiliki brand merk jilbab sendiri, ia merintis usahanya semenjak kuliah ini, mulai dari bros, jilbab, ringcase, wow, ia calon sukses deh pokonya. Keren banget.
Yah, sampai di rumah, saya datang dengan wajah yang sangat berbeda dari wajah saya berangkat tadi. Saya datang dengan wajah yang sumringah dan ibu saya menyambut dengan senyum yang indah pula. Assalamualikum.... mbak pulang.... adek bangun... mbak bawa makanan kesukaan adek. Adek saya langsung bangun dan seneng banget sepertinya. Alhamdulillah, kata ibuk. Saya pulang dengan membawa kabar gembira. Itu yang ketujuh.
Ya Allah sungguh besar nikmat dan karunia-Mu. Dalam hitungan jam saja sudah memberikan tujuh hikmah untuk saya yang berangkat dengan hati dongkol dan jauh dari kata ikhlas, dan Kau berikan segala nikmatMu walaupun hati hambaMu ini telah berperasangka. Mahabesar Allah yang menciptakan langit dan bumi ini.
Nah, dari cerita tadi bisa kita ambil hikmah bahwa, apapun, kapanpun, diamanapun, kalau kita mampu, dan untuk kebaikan, janganlah kita menolak, terima saja, mungkin saja banyak berkah di baliknya. Dan saling menolonglah, mungkin saja, suatu saat kita membutuhkan bantuannya di lain hari. Ayuk mari kita belajar bersama-sama untuk menjalani hidup dengan lebih baik seta terus menigkatkan iman. Semoga keberkahan selalu bersama kita semua, Allahumma Aamiiin. :)
Terimakasih sudah membaca sedikit cerita saya ini. Mohon maaf apabila cerita ini menyinggung salah satu pihak atau yang lainnya, saya cuma berniat berbagi cerita. Untuk guru saya terimakasih banyak Bapak, mohon maaf juga bila saya bandel dan susah diatur. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.
Wassalamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh :D
No comments:
Post a Comment